NADIKABAR.COM — PT Bank DBS Indonesia membantah kabar yang menyebut perusahaan berpotensi bergabung dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA.
Isu tersebut ramai diperbincangkan di pasar setelah saham BCA dikabarkan mengalami kenaikan tajam tetapi hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai aksi korporasi tersebut.
Head of Group Marketing and Communications Bank DBS Indonesia Mona Monika menegaskan kabar itu tidak benar.
"Isu tersebut tidak benar adanya," kata Mona dalam keterangannya, Kamis (29/10).
Sebelumnya, rumor mengenai kemungkinan penggabungan DBS Indonesia ke dalam BCA ramai diperbincangkan setelah diungkapkan pengamat pasar Ricky Ho melalui akun X miliknya.
Ricky menyebut transaksi tersebut berpotensi dilakukan melalui skema inbreng, yakni penyetoran modal dalam bentuk aset non-tunai.
Dalam skenario yang beredar itu, BCA akan menjadi entitas yang bertahan, sedangkan pemegang saham DBS Indonesia memperoleh saham baru BCA sebagai imbalan atas transaksi tersebut. Namun, Ricky menegaskan informasi itu masih sebatas rumor pasar, bukan pengumuman resmi aksi korporasi.
"Ada rumor pasar menarik yang beredar bahwa Bank DBS Indonesia bisa digabungkan ke dalam BCA melalui transaksi inbreng atau penyetoran modal non-tunai," tulis Ricky dalam unggahannya.
Ricky juga mengaitkan rumor tersebut dengan pergerakan saham BBCA yang disebut sempat naik sekitar 7 persen saat ia menulis unggahannya. Namun, ia menegaskan kabar penggabungan itu belum terkonfirmasi.
"Untuk memperjelas, ini adalah rumor pasar yang belum terkonfirmasi, bukan aksi korporasi yang telah diumumkan," tulisnya lebih lanjut.
Dari sisi kepemilikan, DBS Bank Ltd saat ini memiliki sekitar 99 persen saham Bank DBS Indonesia, sedangkan BCA telah memiliki 1 persen sisanya.
Temasek merupakan salah satu pemegang saham utama DBS Group. Karena itu, apabila transaksi pertukaran saham benar-benar dilakukan, struktur transaksi dan pihak yang terlibat perlu diperjelas.
Ricky menilai bisnis DBS Indonesia di segmen perbankan korporasi, treasury, pengelolaan kekayaan, dan nasabah institusi berpotensi melengkapi kekuatan BCA di pasar domestik, termasuk jaringan simpanan, layanan pembayaran, dan distribusi ritel.
Meski demikian, ia mempertanyakan seberapa besar tambahan keuntungan yang bisa diperoleh BCA dari transaksi tersebut. Dalam unggahannya, Ricky membandingkan laba bersih DBS Indonesia sekitar Rp1,72 triliun untuk tahun buku 2025 dengan laba BCA sebesar Rp45,2 triliun dalam sembilan bulan pertama 2026.
Perbandingan itu menunjukkan skala laba kedua bank berbeda cukup jauh, meski belum memperhitungkan potensi sinergi maupun penyesuaian transaksi.
Ricky juga menyoroti sejumlah hal yang perlu diketahui sebelum menilai transaksi tersebut, seperti valuasi DBS Indonesia, rasio pertukaran saham, jumlah saham baru BCA yang akan diterbitkan, dampak terhadap laba per saham, tingkat pengembalian ekuitas, kecukupan modal, serta efisiensi biaya BCA.
Menurut Ricky, transaksi dengan harga yang tepat berpotensi menguntungkan kedua pihak. Namun, tanpa kejelasan mengenai valuasi, struktur kepemilikan, sinergi yang diharapkan, dan tujuan strategis para pemegang saham, rumor tersebut belum dapat dianggap sebagai sentimen positif bagi saham BCA.
"Untuk saat ini, saya akan memperlakukan kabar ini sebagai spekulasi sampai ada konfirmasi resmi dari BCA, DBS, atau regulator terkait," tulis Ricky.