NADIKABAR.COM — Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) diprediksi akan memperlambat laju perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Para analis menilai kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilu sela dan pengambilalihan kedua kamar di Kongres dapat mempengaruhi pengembangan AI di AS. Kondisi ini juga akan berdampak pada perdagangan AI global maupun persaingan teknologi antara AS dan China.

Mereka mengatakan, AI merupakan bagian penting secara politis dalam waktu singkat. Meski isu teknologi tersebut masih berada di bawah isu-isu seperti biaya hidup dan korupsi pemerintah yang lebih darurat.

Ekonom dari Natixis Corporate and Investment Bank Gary Ng Cheuk-yan, menyebut perlambatan laju AI di AS akan menjadi kemenangan bagi China dalam mengembangkan teknologi tersebut.

"Perlambatan di AS bisa menjadi kemenangan bagi China. [Hasil pemilu] tidak akan membuat pembangunan pusat data [di AS] terhenti total, tetapi lajunya pasti akan melambat," kata Ng dikutip dari South China Morning Post, Rabu (4/11).

Ng menilai kontrol Demokrat di Kongres akan menimbulkan kendala baru pada kapasitas komputasi AS. Pasalnya, partai tersebut lebih mendukung pengawasan ketat terhadap pusat data.

"Hal ini akan menjaga token AI [AS] tetap tinggi, memberi China kesempatan untuk mengekspor layanan inferensi yang hemat biaya, didukung oleh pasokan listrik yang melimpah," ungkap Ng.

Penilaian ini muncul di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap AI dan pusat data yang ternyata menjadi salah satu pemicu penolakan terhadap Partai Republik dan Presiden AS Donald Trump yang vokal terhadap pengembangan teknologi tersebut.

Survei exit poll nasional oleh NBC News menunjukkan bahwa 56 persen pemilih menganggap AI dan pusat data sebagai faktor sangat penting atau utama dalam menentukan suara mereka di Kongres. Sekitar 64 persen dari kelompok pemilih ini adalah pendukung Demokrat.

Selain itu, sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos tepat sebelum pemilu menganggap pembatasan pembangunan pusat data AI sebagai isu yang sangat penting atau paling penting bagi mereka.

Tak hanya itu, Kongres yang didominasi oleh Partai Demokrat juga diperkirakan akan mengejar peraturan yang dapat secara langsung memperlambat penelitian dan pengembangan AI terdepan.

Dari sisi kompetisi AI antara AS-China, hasil pemilu sela dapat mendorong perusahaan komputasi awan AS seperti Amazon Web Services dan Google untuk membangun pusat data baru di luar negeri. Kondisi ini dapat mengintensifkan persaingan antara kedua negara ini di pasar negara ketiga, termasuk Asia.

Hingga Rabu (4/11) dini hari waktu AS, para pemilih telah menyetujui hampir setiap langkah pemungutan suara tingkat lokal terkait pusat data di 13 negara bagian, termasuk proposal untuk membatasi pembangunan dan memberhentikan politik yang pro-pusat data.

Untuk para investor, fokus utamanya adalah seberapa besar pembatasan baru tersebut dapat menunda pembangunan pusat data, meningkatkan biaya terkait, hingga mengubah secara signifikan perhitungan bisnis pembangunan infrastruktur AI di AS. Hal ini disampaikan oleh pendiri firma riset Tech Buzz China Rui Ma.

"Saya rasa penundaan pembangunan pusat data ini sudah banyak diprediksi. Masyarakat tidak sungkan menyuarakan penolakan mereka dan investor tentu sudah menyadari risikonya," kata Ma.

Kepala investasi global di Bank Swiss Lombard Odier Michael Strobaek menyebut Trump masih memilik hak veto untuk menggagalkan upaya agresif Demokrat, termasuk menolak pembuatan larangan pusat data nasional, di luar rentetan regulasi lokal yang kini sudah disetujui pemilih.

"Terkait AI, menurut pandangan kami, jalur yang paling mungkin terjadi adalah regulasi yang diawasi secara mandiri oleh industri (self-supervised regulation)," ungkap Michael Strobaek.

Mantan wakil jaksa agung AS Rod Rosenstein, menekankan bahwa Trump masih memegang kekuasaan eksekutif yang besar, termasuk melalui penerbitan keputusan presien.

"Kongres kemungkinan akan menggunakan pengaruhnya melalui sidang pengawasan dan pembuatan undang-undang. [Hal itu] sepertinya tidak akan mengubah pendirian Trump dalam perlombaan AI dengan China," kata Rosenstein.

Trump sebelumnya menyebut ketakutan terhadap keamanan AI sebagai hoaks atau berita bohong dan menekankan pentingnya memenangkan perlombaan AI melawan China. Dalam beberapa bulan terakhir, ia berulang kali mengatakan bahwa siapa pun yang memenangkan AI, dirinyalah pemenangnya.