NADIKABAR.COM — Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji buka suara terkait penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah yang mendekati Rp 18.200. Menurutnya, kenaikan nilai tukar dolar AS berdampak positif dan negatif terhadap industri dalam negeri.
Sarmuji menjelaskan, penguatan dolar AS menguntungkan industri yang berorientasi ekspor karena bisa memperoleh pendapatan lebih besar.
"Kalau industri-industri yang orientasinya ekspor itu pasti senang, karena dengan barang yang sama mendapatkan rupiah yang lebih besar. Karena harga dolarnya naik, dibeli dengan dolar di luar negeri," kata Sarmuji di Kemenperin, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026).
Sebaliknya, penguatan dolar AS menjadi tekanan bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor karena berpotensi meningkatkan biaya produksi sehingga pelaku usaha perlu menyiapkan langkah antisipasi.
"Tetapi untuk industri yang bahan bakunya dari luar negeri, dari impor, tentu agak berat. Jadi, harus ada mitigasi bagi industri. Industri juga harus melakukan prediksi penyesuaian diri juga," ujarnya.
Sarmuji berharap nilai tukar dolar AS dapat bergerak lebih stabil terhadap rupiah. Dengan begitu, pelaku industri lebih mudah menyusun perencanaan dan memperkirakan kebutuhan biaya produksi.
"Tapi kita harapkan tentu dolar lebih stabil, sehingga industri lebih mudah untuk memproyeksikan proses produksinya," tutur Sarmuji.
Sebagai informasi, pada perdagangan hari Rabu (28/10), mata uang Paman Sam bergerak mendekati Rp 18.200 dan diperdagangkan di level Rp 18.173. Lalu hari ini dolar AS terpantau melemah namun masih berada di level Rp 18.137.