NADIKABAR.COM — Kebudayaan menjadi salah sektor yang menjadi fokus pemerintah saat ini untuk dikembangkan lebih jauh, sehingga diharapkan berdampak positif bagi masyarakat Indonesia. Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka secara resmi membentuk Kementerian Kebudayaan sebagai langkah nyata untuk merealisasikannya.

Dibentuk kembali pada 20 Oktober 2024 melalui Perpres No.190 Tahun 2024, sektor kebudayaan sebelumnya sempat "mati suri". Kini, sektor tersebut dibangkitkan kembali setelah sempat berdiri pada 31 Maret 1966, sebelum akhirnya dilebur dengan kementerian lain.

Kementerian Kebudayaan yang saat ini dipimpin oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha memiliki tujuan untuk memajukan kebudayaan serta mengoptimalkan peran kebudayaan dalam pembangunan serta penguatan tata kelola kebudayaan yang partisipatif, transparan, dan akuntabel.

Misi lain, yakni melindungi dan melestarikan kekayaan budaya serta masyarakat adat dan penghayat kepercayaan, mendorong kreativitas dan meningkatkan inovasi budaya berbasis teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Mengelola keberagaman budaya untuk memperkokoh persatuan bangsa, memanfaatkan Kebudayaan Indonesia sebagai soft power di tengah peradaban dunia dan menginternalisasi nilai-nilai budaya luhur bangsa melalui pendidikan serta pengarusutamaan kebudayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam upaya melindungi warisan sejarah peradaban bangsa, hingga kini pemerintah telah menetapkan sebanyak 430 objek cagar budaya peringkat nasional.

Sehingga secara total, kini telah tercatat 743 cagar budaya nasional telah diakui oleh pemerintah. Lewat intervensi yang dilakukan Kementerian Kebudayaan serta partisipasi aktif pemerintah dalam menjemput bola, diharapkan pada tahun ini pencatatan cagar budaya nasional mampu mencapai setidaknya 1.750 atau lebih, mengingat potensi objek cagar budaya Indonesia mencapai puluhan ribu.

Capaian lain yang juga menjadi fokus adalah revitalisasi dan restorasi museum yang diharapkan bisa meningkatkan fungsi pelestarian, sekaligus menjadi warisan sejarah sebagai pusat edukasi, daya tarik wisata dan penggerak ekonomi baru berbasis budaya.

Pada tahun ini, Kemenbud menargetkan setidaknya revitalisasi dan restorasi hampir 200 museum, cagar budaya, keraton dan istana sebagai bagian untuk mendorong ekonomi berbasis budaya.

Pemerintah, saat ini telah memulai revitalisasi fisik di 13 titik kawasan Keraton Solo dengan anggaran sekitar Rp15 Miliar. Pemerintah menggandeng Yayasan Danantara trust Fund untuk mendukung revitalisasi di Museum Nasional, sehingga diharapkan citra museum kian menarik untuk dikunjungi generasi muda dan menjadi medium yang tepat sebagai sarana edukasi modern, menarik, serta nyaman.

Tata pamer yang tepat juga diperlukan agar museum sebagai pusat pelestarian budaya dan sejarah kian optimal. Kementerian Kebudayaan melalui unit Museum dan Cagar Budaya (MCB) juga menghadirkan buku Museum Passport dan cap sebagai atraksi anyar untuk menarik kunjungan wisatawan, sekaligus cara baru berwisata museum dengan target sasaran anak muda yang kembali menggemari hal-hal bersifat analog. Pengunjung bisa membubuhkan cap (stempel) yang ada di museum ke dalam buku tersebut.

Setiap museum yang dikunjungi memiliki desain cap yang berbeda-beda, sehingga menjadi daya tarik kunjungan untuk museum.

Sebagai upaya untuk mengembalikan warisan sejarah, sekaligus sebagai upaya pelindungan memori kolektif bangsa, Kemenbud telah memperjuangkan pengembalian koleksi fosil dari peneliti asal Belanda, yakni Eugene Dubois pada tahun lalu.

Pengembalian ini meliputi empat fosil masterpiece, yakni Java Man atau Pithecanthropus erectus yang berusia 500.000 tahun atau secara total setidaknya lebih dari 28.000 koleksi fosil akan dikembalikan ke Tanah Air.

Kemudian, pada Juli lalu, Direktur FBI AS Kash Patel melakukan kunjungan ke Jakarta dan menyerahkan 8 artefak dari Papua kepada Presiden Prabowo Subianto yang didampingi Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Pada sektor film, Kementerian Kebudayaan memberikan dukungan terhadap fasilitasi perkembangan ekosistem melalui beberapa program yang meliputi fasilitasi dan dukungan untuk sejumlah film Indonesia yang berpartisipasi dalam ajang perfilman dunia, seperti Festival Film Internasional Rotterdam, hingga Festival Film Cannes.

Upaya lainnya adalah pemanfaatan Dana IndonesiaRaya untuk mendukung literasi film, meluncurkan program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia yang dimulai pada tahun ini, dengan mengangkat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia periode 1945-1950. Setidaknya 20 karya yang terdiri dari film panjang dan pendek telah memasuki produksi, setelah penandatanganan kerja sama.

Sebagai upaya melestarikan seni dan budaya Nusantara dan pewarisan ilmu secara langsung dari para maestro kepada generasi muda, Kementerian Kebudayaan turut menghadirkan program unggulan, yakni Belajar Bareng Maestro (BBM).