Selain itu, Eddy juga menyoroti perkembangan pemanfaatan energi nuklir di berbagai negara. Saat ini, terdapat puluhan reaktor nuklir yang sedang dalam tahap pembangunan di berbagai belahan dunia, dengan China menjadi salah satu negara yang paling aktif mengembangkan teknologi tersebut.

Meski demikian, Eddy mengingatkan pengembangan PLTN membutuhkan persiapan yang matang, terutama dari aspek regulasi, kelembagaan, pembiayaan, teknologi, keselamatan, dan penerimaan masyarakat.

"Pengembangan PLTN merupakan proyek strategis jangka panjang dengan kebutuhan investasi yang besar dan kompleksitas teknologi yang tinggi. Karena itu, kita perlu memastikan kesiapan regulasi, kelembagaan, sumber daya manusia, serta standar keselamatan yang kuat sejak tahap perencanaan," ujarnya.

Eddy menilai pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO) menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan koordinasi dan tata kelola program nuklir nasional berjalan secara terintegrasi. Selain itu, finalisasi RUU Energi Baru dan Energi Terbarukan serta revisi regulasi ketenagalistrikan juga diperlukan untuk memberikan kepastian kebijakan bagi investor dan mitra teknologi.

Dari sisi pembiayaan, Eddy mendorong pemerintah untuk mengembangkan skema pendanaan inovatif melalui kombinasi dukungan pemerintah, pembiayaan multilateral, export credit, dan partisipasi modal swasta. Pendekatan tersebut diperlukan agar proyek PLTN memiliki kelayakan investasi dan tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap kapasitas fiskal negara.