"Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Peran BAPETEN sebagai regulator dan pengawas keselamatan nuklir juga sangat penting. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang terbuka, akurat, dan berbasis sains mengenai teknologi nuklir, termasuk standar keselamatan dan pengelolaan risikonya," tegasnya.
Lebih lanjut, Eddy mendorong penguatan kapasitas nasional melalui pengembangan sumber daya manusia, industri pendukung, rantai pasok, serta kemitraan internasional yang memungkinkan terjadinya transfer teknologi. Indonesia juga perlu memperhitungkan dinamika geopolitik global dalam menentukan pilihan teknologi dan mitra strategis pengembangan PLTN.
"Indonesia perlu membangun ekosistem energi nuklir secara bertahap dan terencana. Kita harus memastikan bahwa pengembangan teknologi, kesiapan industri nasional, kapasitas SDM, dan tata kelola keselamatan tumbuh secara bersamaan," lanjutnya.
"Ketahanan energi dan komitmen iklim merupakan dua agenda yang saling memperkuat. Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara dengan sistem energi yang lebih mandiri, kompetitif, dan rendah karbon. Energi nuklir dapat menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut," pungkasnya.