NADIKABAR.COM — baru ini ke pulau terpencil di Pasifik Selatan untuk mencari puing pesawat Amelia Earhart yang hilang, tidak membuahkan hasil.

Peneliti tidak menemukan bukti konklusif bahwa Earhart mendaratkan pesawat Lockheed 10E Electra di atau dekat atol (pulau karang) kecil di selatan lokasi pemberhentian awal penerbangannya yang nahas hampir 90 tahun lalu.

Perjalanan ke lokasi yang dicurigai, yakni Pulau Nikumaroro, merupakan upaya gabungan yang dipimpin Archaeological Legacy Institute (ALI) dan Purdue University. Tim yang terdiri dari 17 orang peneliti dan teknisi tiba di pulau itu 12 Oktober.

Tujuan utamanya adalah memeriksa sebuah objek buram di laguna yang dikenal sebagai Objek Taraia, pertama kali terdeteksi dalam citra satelit tahun 2020. Pemimpin tim dan arkeolog Rick Pettigrew meyakini bentuk menyerupai pesawat itu adalah puing pesawat Earhart.

Namun, ekspedisi tersebut tidak menemukan bukti konklusif untuk mengonfirmasi hipotesis bahwa puing-puing pesawat Earhart berada di sebuah laguna di atol terpencil di Pasifik Selatan.

Anomali visual dalam citra satelit enam tahun lalu kemungkinan besar adalah kumpulan pohon besar tertumpuk. "Saat tim tiba di lokasi, sebagian besar puing telah hancur dan hanyut," sebut Purdue University.

"Bukti untuk hipotesis orang terdampar, yang membawa kami ke sini, tetap sangat kuat. Kami pikir sangat mungkin Amelia dan navigatornya, Fred Noonan, pada kenyataannya berakhir di sini, di Pulau Nikumaroro," kata Pettigrew, direktur eksekutif ALI.