NADIKABAR.COM — PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) mengakui adanya peretasan pada aplikasi yang digunakan perseroan untuk mengelola data pelanggan. Perusahaan mengaku telah menghentikan akses tersebut dalam waktu 24 jam sejak terdeteksi, memperbaiki celah keamanan, memperbarui sistem, dan memperkuat perlindungan data.
Berdasarkan investigasi internal, FORE menemukan adanya aktivitas tidak wajar berupa akses tanpa izin pada platform terkait. Kejadian tersebut berdampak kepada data 5,7 juta akun pelanggan.
Data pelanggan yang mengalami peretasan mencakup nama, alamat email, nomor telepon, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, hashed PIN, dan riwayat pembelian melalui aplikasi Fore.
"Kami memahami kekhawatiran yang ditimbulkan oleh kejadian ini dan dengan tulus meminta maaf kepada pelanggan yang terdampak. Melindungi data pelanggan merupakan tanggung jawab kami," ungkap Chief Executive Officer (CEO) FORE, Vico Lomar, dalem keterangan tertulisnya dikutip dari Keterbukaan Informasi, Kamis (29/10/2026).
Perusahaan menegaskan, aplikasi Fore tidak pernah meminta dan menyimpan informasi NIK dan foto KTP. Selain itu, FORE juga tidak pernah menyimpan informasi pembayaran, termasuk detail kartu kredit atau debit yang disimpan pada platform terpisah.
Manajemen juga menunjuk konsultan keamanan siber profesional untuk melakukan investigasi forensik terhadap aplikasi FORE, platform terkait, dan sistem teknologi informasi lainnya. FORE juga telah melaporkan kejadian ini kepada Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan terus berkoordinasi dengan otoritas.
FORE juga telah menghubungi pelanggan yang terdampak secara langsung. Perseroan juga meminta pelanggan yang menerima pemberitahuan untuk segera mengganti/membuat PIN akun Fore dan mengganti akun lain yang menggunakan PIN yang sama.
Aplikasi Fore juga telah menerapkan autentikasi dua faktor (2FA) untuk proses masuk ke akun melalui perangkat baru, sebagai lapisan keamanan tambahan untuk melindungi akun pelanggan. Hingga saat ini, perseroan tidak menemukan indikasi bahwa informasi yang diakses tersebut telah disalahgunakan.
"Kami saat ini adalah mendukung pelanggan yang terdampak, menyelesaikan investigasi secara menyeluruh, dan memastikan bahwa pembelajaran dari kejadian ini diterjemahkan menjadi penguatan nyata terhadap sistem dan tata kelola keamanan kami," pungkasnya.