NADIKABAR.COM — Indonesia menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertamanya pada 2032 mendatang. Merespons target tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti beberapa aspek seperti riset, teknologi, dan sumber daya manusia (SDM).
Hal tersebut disampaikan BRIN dalam Seminar Nasional bertema "PLTN 2032: Siap Dibangun, Siap Dibiayai, Siap Diawasi?" hasil kolaborasi BRIN, Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI), dan Majalah Listrik Indonesia.
Dalam acara tersebut, Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam dan Ketenaganukliran BRIN, Ratih Damayanti mengatakan energi nuklir kini telah bertransformasi menjadi peran yang mengarah pada transisi energi nasional.
"Energi nuklir bukan lagi sekadar opsi alternatif, melainkan menjadi enabler utama untuk mencapai net zero emission," ujar Ratih dalam keterangannya, Rabu (4/11).
Ia mengatakan pembangunan PLTN bukan semata-mata urusan lingkungan, melainkan penyediaan energi yang esensial untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan dan mengamankan daya saing industri nasional di kancah global.
"Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy berdaya 30 MW di Serpong, Reaktor Triga 2000 di Bandung, serta Reaktor Kartini di Yogyakarta," kata Ratih.
Menurutnya, tiga fasilitas reaktor milik kita tersebut adalah bukti empiris bahwa penguasaan teknologi, budaya keselamatan, dan operasional reaktor nuklir dalam negeri telah teruji secara internasional.