NADIKABAR.COM — Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,88% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan III-2026, naik dari 5,58% pada periode yang sama tahun lalu. Angka ini kembali lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama, yang tercatat 5,47%.
Data tersebut dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (5/11/2026). Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, hal tersebut merupakan capaian positif bagi sektor manufaktur.
"Ini menunjukkan bahwa sektor industri kita memiliki daya tahan dan kemampuan untuk terus tumbuh di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Industri pengolahan semakin mempertegas posisinya sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Sarmuji dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11/2026).
Dibandingkan triwulan II 2026 (5,32%), pertumbuhan industri nonmigas juga naik 0,56 poin persentase. Jika migas ikut dihitung, industri pengolahan tumbuh 5,87%.
"Ini momentum baik yang mencerminkan perbaikan iklim industri secara berkelanjutan. Terutama terjadi di bulan Oktober, semua indikator membaik. Kalau kita melihat perkembangan beberapa tahun terakhir, industri pengolahan terus menunjukkan kinerja yang positif. Ini menjadi modal penting untuk memperkuat struktur industri nasional dan meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian," kata Sarmuji.
Pertumbuhan ini didukung banyak subsektor. Industri logam dasar masih tumbuh tinggi, yaitu 9,94% pada triwulan III 2026, setelah tumbuh 18,62% pada periode yang sama tahun lalu. Industri makanan dan minuman juga meningkat, dari 6,49% pada triwulan III 2025 menjadi 7,09% pada triwulan III 2026.
Subsektor lain yang tumbuh lebih cepat dari industri nonmigas secara keseluruhan pada triwulan III 2026:- industri furnitur: 12,68%, berbalik dari minus 4,34% setahun sebelumnya- industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki: 9,75%- industri kimia, farmasi, dan obat tradisional: 8,10%- industri pengolahan lainnya, termasuk jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan: 7,01%- industri tekstil dan pakaian jadi: 6,22%- industri alat angkutan: 6,14%
Menurut Sarmuji, ini menunjukkan pertumbuhan industri tidak hanya bergantung pada satu sektor, tetapi didukung banyak jenis industri yang mampu menciptakan nilai tambah dan memperluas pasar.
Industri pengolahan, termasuk migas, tetap menjadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB). Pada triwulan III 2026, porsinya mencapai 19,22%, naik dari 18,50% pada triwulan sebelumnya dan 19,15% pada triwulan III 2025. Nilainya mencapai Rp1.295,5 triliun (atas dasar harga berlaku).
"Kontribusi industri pengolahan yang mencapai 19,22% terhadap PDB nasional menunjukkan bahwa manufaktur tetap menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia," ungkap Sarmuji.
Sarmuji menegaskan, capaian ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat kebijakan industri. Pemerintah perlu memastikan bahan baku tersedia, pasokan energi kompetitif, dan kepastian berusaha terjaga, serta mendukung peningkatan produktivitas.
Selain itu, pemerintah mendorong investasi produktif, pendalaman struktur industri, penggunaan produk dalam negeri, serta daya saing IKM dan kemitraannya dengan industri besar.
"Kita harus menjaga momentum ini agar pertumbuhan industri tidak hanya tinggi dalam satu triwulan, tetapi dapat terus berlanjut dan semakin berkualitas. Industri nasional harus semakin mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, meningkatkan ekspor, dan menghasilkan produk yang memiliki daya saing di pasar global," tegas Sarmuji.
Penguatan industri juga terlihat dari dua survei. Pertama, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari S&P Global naik ke 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September. Ini angka tertinggi sejak Maret 2024. Angka di atas 50 menandakan aktivitas manufaktur sedang ekspansi.
Kedua, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian naik 1,84 poin menjadi 53,77 pada Oktober 2026, dari 51,93 pada September. Ini level tertinggi sejak Februari 2026. Kenaikan IKI terutama didorong pesanan baru, yang indeksnya mencapai 56,08, tertinggi kedua sejak November 2022. Indeks produksi juga naik ke 55,38.
"Tiga indikator penting manufaktur kompak naik, yaitu PMI, Indeks Kepercayaan Industri, dan pertumbuhan industri pengolahan. Artinya, aktivitas pabrik makin bergairah, pelaku industri makin yakin, dan pertumbuhan industri makin cepat. Ini kabar baik. Momentum ini harus kita jaga supaya membawa manfaat yang luas dan berkelanjutan bagi perekonomian, lapangan kerja, dan daya saing industri kita," ujar Sarmuji.
Naiknya pesanan baru dan produksi pada Oktober juga menjadi sinyal bahwa momentum pertumbuhan manufaktur berlanjut di awal triwulan IV 2026. Pemerintah akan terus menjaga iklim usaha yang kondusif agar permintaan yang meningkat bisa dijawab dengan penguatan kapasitas produksi dan investasi.