Namun, perbedaan urutan pembangunan, keterlambatan ruas pendukung, dan disparitas tarif membuat sebagian ruas padat, sementara jalur alternatif belum dimanfaatkan secara optimal.

"Tujuan utama integrasi adalah meningkatkan kelancaran lalu lintas melalui distribusi kendaraan yang lebih merata. Ruas-ruas yang saling terhubung perlu saling mendukung sebagai satu jaringan," terang Sony.

Perwakilan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jakarta, Ahmad Sugiono, mengingatkan biaya logistik dibentuk oleh banyak faktor. Tarif tol menjadi salah satu komponen yang menekan margin usaha di tengah persaingan harga.

Dalam skema borongan atau uang jalan tertentu, penghematan waktu satu hingga dua jam belum tentu mendorong pengemudi beralih dari jalan arteri jika biaya perjalanan bertambah.

"Penggunaan tol perlu dilihat dari keseluruhan ekosistem logistik, termasuk kemacetan sebelum masuk tol, fleksibilitas rute, frekuensi perjalanan, dan peluang memperoleh muatan balik. Jadi, perhitungannya tidak hanya waktu tempuh," jelas Ahmad.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS), Gibran Sesunan, menilai penetapan tarif tol perlu mempertimbangkan fungsi dan tujuan pembangunan masing-masing ruas.