Penyamarataan tarif berdasarkan golongan kendaraan belum cukup mengakomodasi perbedaan antara tol yang berfokus pada angkutan logistik dan perjalanan penumpang.
Karena itu, penetapan tarif perlu memperhitungkan fungsi strategis, karakteristik lalu lintas dan manfaat ekonomi-sosial setiap ruas. Tarif yang terjangkau juga dinilai dapat mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk memanfaatkan jalan tol.
"Untuk ruas yang dibangun sebagai jalur logistik, angkutan barang semestinya memperoleh tarif lebih terjangkau agar terdorong menggunakannya. Kebijakan tarif perlu mempertimbangkan fungsi dan tujuan pelayanan masing-masing ruas," kata Gibran.
Senior Consultant Supply Chain Indonesia, Sugi Purnoto, mengatakan pemilihan rute sangat bergantung pada kecukupan uang jalan yang diterima pengemudi. Dana tersebut harus mencukupi berbagai kebutuhan, mulai dari penghasilan pengemudi, makan, BBM, tarif tol, hingga biaya bongkar muat.
Dalam simulasinya, biaya tol pada jalur yang saat ini digunakan menyerap sekitar 7-14% dari uang jalan. Namun, jika beralih ke ruas tol khusus angkutan logistik, porsinya diperkirakan meningkat menjadi 28-40%. Akibatnya, alokasi dana untuk kebutuhan lain menjadi lebih terbatas.
"Konektivitas fisik harus didukung oleh tarif yang memungkinkan pengemudi memenuhi kebutuhan operasionalnya. Jika bebannya meningkat secara signifikan, pengemudi bisa tetap memilih jalur eksisting meskipun menghadapi kemacetan atau risiko keselamatan lebih tinggi," kata Sugi.