NADIKABAR.COM — Karhutla yang melanda sejumlah wilayah Indonesia sepanjang 2026 memperlihatkan betapa parahnya dampak pertemuan antara cuaca ekstrem, lahan yang rentan terbakar, dan lemahnya pencegahan. El Nino yang sangat kuat memperparah kondisi kering, tetapi fenomena iklim ini tidak menjelaskan seluruh persoalan di balik kebakaran yang berlangsung berbulan-bulan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 7 September 2026 menyatakan bahwa September masih menjadi fase kritis karhutla. Cuaca kering, pengaruh El Nino, dan tingginya jumlah titik panas menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Dalam Buletin Informasi Iklim Oktober 2026, BMKG mencatat indeks Nino 3.4 periode Juli-September mencapai +2,7, yang masuk kategori El Nino sangat kuat. Kondisi ini membantu menjelaskan mengapa kekeringan menjadi ancaman serius di Indonesia.
Mekanismenya relatif jelas. Berkurangnya hujan dapat menurunkan kelembapan vegetasi dan tanah. Di lahan gambut, kondisi kering membuat lapisan organik lebih rentan terbakar. Api bahkan dapat menjalar di bawah permukaan sehingga kebakaran tidak selalu mudah terdeteksi dan dipadamkan.
Namun, El Nino tidak menyalakan api dengan sendirinya. Pembukaan lahan menggunakan api, pengelolaan lahan yang buruk, kerusakan ekosistem gambut, dan lemahnya pencegahan dapat mengubah kondisi kering menjadi kebakaran yang meluas.
Karhutla tidak hanya menjadi persoalan luas lahan terbakar, tetapi juga memunculkan krisis kesehatan dan kualitas udara. Greenpeace Indonesia menyebut masyarakat di Kalimantan dan Sumatra telah menghadapi kabut asap selama hampir dua bulan.