Namun demikian, katanya, yang terpenting adalah mengurangi risiko henti jantung mendadak dengan cara menangani faktor-faktor risiko, contohnya gaya hidup dan kesehatan individu.

Selain itu, katanya, beban kerja yang berat serta ketidakpastian ekonomi menyebabkan stres, dan stres memicu peningkatan hipertensi dan gangguan jantung.

"Kemudian, aspek jam kerja dan shift. Kadang-kadang karena tuntutan produksi, akhirnya waktu kerjanya jadi sangat panjang. Bahkan shift, kurang istirahat, dan lain sebagainya. Ini tentu mengganggu ritme biologis dari seseorang," ujarnya.

Kurangnya aktivitas fisik pada pekerja kantoran juga turut menyumbang risiko henti jantung mendadak. Perubahan iklim secara global dan paparan bahan beracun juga turut meningkatkan stres pekerja dan risiko terkena gangguan jantung.

Karena itu, pihaknya berupaya menangani berbagai isu tersebut melalui berbagai regulasi guna memastikan kesehatan di lingkungan kerja.