NADIKABAR.COM — sama mendominasi internet selama dua dekade terakhir dan menghasilkan triliunan dolar dari bisnis iklan di browser dan platform mereka. Namun, cara konsumen berinteraksi secara online yang berubah seiring perkembangan era kecerdasan buatan (AI) turut memengaruhi kedua raksasa teknologi tersebut.
Pada kuartal ketiga 2026, bisnis iklan Meta tumbuh dua kali lebih cepat daripada unit-unit yang dimiliki oleh Google.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan pernyataan Mark Zuckerberg tentang investasi perusahaannya dalam AI yang diklaim menghasilkan sistem penargetan calon konsumen lebih baik bagi brand-brand yang mempromosikan produknya di Facebook dan Instagram.
Chatbot sebagai alternatif pencarian di Google menjadi masalah utama yang mungkin dihadapi perusahaan karena konsumen tidak perlu lagi mengklik tautan situs web untuk mendapat informasi, sehingga iklan di situs web juga jadi semakin jarang terlihat.
Selain itu, pengguna juga menghabiskan waktu lebih banyak di media sosial daripada browser Google, menjadikan Instagram dan Facebook milik Meta berpotensi menunjukkan lebih banyak iklan.
"Ini seperti pedang bermata dua. Seiring AI merevolusi penemuan internet (discovery), orang mungkin menemukan alat yang lebih mereka sukai daripada Google," kata analis AI Emarketer Nate Elliott, dikutip dari CNBC, Minggu (1/11).
"Jika ChatGPT, Claude, atau Muse lebih baik dalam membantu mereka menemukan apa yang mereka cari, kebiasaan pencarian orang mungkin berubah untuk pertama kalinya dalam satu generasi. Itu berpotensi menjadi bencana bagi bisnis iklan Google," tambah Elliott.
Pendapatan Meta meningkat 26 persen menjadi US$63,1 miliar (Rp1.146 triliun) pada kuartal ketiga tahun ini, naik dari US$50,1 miliar di tahun lalu. Sementara itu, Google Search hanya mengalami pertumbuhan 12 persen menjadi US$63,4 miliar (Rp1.151 triliun).
Selisih 14 poin persentase pertumbuhan tersebut merupakan selisih terbesar bagi Meta dan Google sejak 2021 dan menjadikan kedua perusahaan tersebut hampir setara dalam skala pendapatan, meskipun Google mendapat tambahan US$11 miliar (Rp200 triliun) pendapatan dari Youtube.
Meta mengembangkan Meta AI yang dapat diintegrasikan ke sistem Ads Manager, sedangkan Google juga telah menerapkan model Gemini di seluruh infrastruktur iklannya. Keduanya masih sama-sama optimis terhadap potensi AI dan berinvestasi ratusan miliar dolar untuk membangun model dan layanan baru.
Google memproyeksikan pengeluaran modal hingga US$205 miliar (Rp3.724 triliun) tahun ini, sedangkan Meta memperkirakan akan menghabiskan hingga US$145 miliar (Rp2.634 triliun).
Sementara itu, Google jauh lebih maju dalam hal diversifikasi karena iklan sebenarnya hanya menyumbang kurang dari dua pertiga pendapatannya, sementara Meta masih mengandalkan iklan untuk 98 persen total pendapatannya.