Sebagian satwa ditemukan di sekitar kebun masyarakat setelah habitat di sekitarnya terdampak kebakaran dan tidak lagi menyediakan tutupan hutan yang memadai.

Salah satu operasi penyelamatan dilakukan terhadap induk orangutan bernama Mama Man dan anaknya, Man, yang masih berusia sekitar tujuh bulan. Keduanya ditemukan di Desa Sungai Awan Kiri, Kabupaten Ketapang, pada September 2026 dan dibawa ke pusat rehabilitasi untuk menjalani pemeriksaan serta perawatan.

Data tersebut merupakan jumlah satwa yang berhasil dievakuasi dalam periode dan wilayah tertentu, bukan keseluruhan korban karhutla. Satwa yang terluka, mati, atau terjebak di dalam hutan belum tentu ditemukan petugas.

Bagi satwa seperti orangutan, hutan bukan sekadar tempat berlindung. Pepohonan menjadi sumber makanan, tempat beristirahat, lokasi membuat sarang, sekaligus jalur untuk berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Raden Wisnu Nurcahyo, menyoroti ancaman karhutla terhadap habitat orangutan. Ketika hutan terbakar, satwa dapat kehilangan tempat tinggal dan sumber pakan sehingga terpaksa berpindah ke kawasan yang lebih terbuka atau mendekati permukiman manusia.

Perpindahan tersebut dapat membuat satwa lebih rentan terhadap kelaparan, dehidrasi, cedera, serta konflik dengan manusia. Kebakaran juga berisiko memisahkan anak dari induknya atau menghambat satwa mencapai kawasan yang lebih aman.