Ancaman lainnya datang dari asap. Partikel dan gas hasil pembakaran dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama ketika satwa terpapar dalam waktu lama atau berada dekat dengan titik kebakaran.
Kasus Sampurna menjadi contoh nyata betapa seriusnya kondisi tersebut. Menurut keterangan Kemenhut, pemeriksaan pascakematian Sampurna menemukan perubahan patologis pada sejumlah organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal.
Perubahan pada paru-parunya diduga berkaitan dengan paparan asap yang dapat mengganggu fungsi pernapasan dan menyebabkan hipoksia akut, yakni kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan oksigen. Gangguan tersebut diduga turut berkontribusi terhadap memburuknya kondisi Sampurna hingga akhirnya mati.
Angka penyelamatan hanya menggambarkan satwa yang berhasil ditemukan dan dijangkau tim. Di kawasan hutan yang luas, tidak semua hewan dapat dipantau ketika kebakaran berlangsung. Satwa yang melarikan diri bisa berpindah jauh dari habitat asalnya. Sementara itu, hewan yang terluka atau mati di area terpencil mungkin tidak pernah ditemukan.
Bagi spesies yang sudah menghadapi tekanan akibat hilangnya habitat, perburuan, dan aktivitas manusia, kebakaran berulang berpotensi menambah beban bagi kelangsungan hidupnya.
BKSDA mengimbau masyarakat yang melihat satwa liar terluka, lemas, atau berada di dekat kawasan terbakar untuk melapor kepada petugas BKSDA atau lembaga penyelamat satwa setempat. Satwa tidak dianjurkan ditangani sendiri karena dapat mengalami stres, terluka lebih parah, atau membahayakan orang yang mencoba menolong.