"Yang paling utama sekarang adalah memastikan proses pencarian, pertolongan dan evakuasi korban dilakukan secara maksimal. Setelah itu, investigasi harus dilakukan secara menyeluruh dan transparan. Kalau ditemukan kelemahan dalam sistem pengawasan, harus segera diperbaiki," ujarnya.

Sudjatmiko mengatakan transportasi laut merupakan bagian penting dari konektivitas Indonesia. Karena itu, aspek keselamatan perlu berjalan bersama dengan ketersediaan layanan transportasi laut.

"Kita membutuhkan transportasi laut yang kuat dan efisien, tetapi keselamatan tidak boleh dinegosiasikan. Jangan menunggu kecelakaan berikutnya baru kemudian pengawasan diperketat," katanya.

"Audit seluruh kapal dan operator harus dilakukan. Kalau ada perusahaan yang membandel, berikan sanksi tegas. Keselamatan penumpang, awak kapal dan masyarakat harus menjadi prioritas utama," pungkas Sudjatmiko.

Kemenhub menurut Miko, dalam menjaga stamina kapal yang mumpuni. Pemilik kapal yang beroperasi harus memastikan fisik kapal dan dokumen untuk rutin melakukan pengecekan fisik mesin, alat pemadam portable dan permanen. Tak lupa alat keselamatan seperti sekoci dan pelampung.

"Pastikan juga setiap kapal memiliki fungsi alat rembesan air yang berfungsi secara teknis," tutupnya.

KM Virgo Transport 8 merupakan kapal jenis roll-on/roll-off (Ro-Ro) yang dibangun pada 1987 oleh Shin Kurushima Onishi Shipyard di Imabari, Jepang. Kapal tersebut memiliki panjang 119 meter, lebar 23 meter, dan tonase kotor 4.277 ton.

Pada 2026, kapal tersebut dipindahkan ke Indonesia dan mulai beroperasi dengan nama KM Virgo Transport 8 pada Juli 2026. Kapal melayani rute Surabaya-Banjarmasin pulang pergi.

Pada 13 September 2026, KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak dan terbalik di perairan Laut Jawa saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal tersebut membawa 243 orang, dengan 115 orang berhasil diselamatkan sementara proses pencarian terhadap penumpang lainnya masih berlangsung.