Ia berharap dengan kerja sama ini, Indonesia dan Malaysia bisa saling belajar dan berbagi informasi terkait 'kiat-kiat' membangun kawasan perdesaan di kedua negara. Akan lebih baik jika kerja sama ini bisa melangkah lebih jauh dan konkret.

"Nanti kita akan bertukar pengalaman, tukar data, success story, karena sekali lagi kami sampaikan bahwa tim redaksi Indonesia-Malaysia sebenarnya nggak ada sekat, tidak ada perbedaan yang begitu mencolok. Maka kerja sama ini sejatinya kita pelihara, kita laksanakan dengan hati yang tulus, dengan niat yang baik, maka kalau kedua negara ini semakin maju, rakyatnya semakin sejahtera," ujarnya.

Sebagai contoh kerja sama konkret antar kedua negara, Yandri menceritakan sejumlah program unggulan Kemendes PDT seperti salah satunya melalui program Desa Ekspor.

"Kami sampaikan ini bisa jadi ruang lingkup yang bisa kita terjemahkan dalam hal-hal yang konkret nanti. Kami punya Desa Ekspor. Saya sebagai Menteri Desa sudah melepas ekspor perdana dari Jawa Timur di Kabupaten Pacitan, gula aren organik ke Malaysia. Nah, jadi ini luar biasa, bentuk konkret hubungan bilateral kedua negara. Dari desa sudah tampak bisa banyak hal-hal yang bisa kita lakukan," ungkap Yandri.

Selain sektor komoditas ekspor, Yandri juga menyoroti potensi besar di sektor pariwisata perdesaan untuk saling mempererat hubungan kedua negara.

"Jadi kalau selama ini mungkin para pelancong Malaysia hanya terkonsentrasi di kota-kota besar Indonesia, Pak Dubes, nanti kalau bisa, Pak, kita buat ya pelancong Malaysia bisa kunjungan ke desa-desa, Pak, karena banyak sekali desa wisata di Indonesia. Termasuk nanti kita akan promosikan juga desa-desa wisata yang ada di Malaysia supaya warga Indonesia ke Malaysia juga kunjungan ke desa-desa yang ada di Malaysia," lanjutnya.

Tak hanya itu, program pengembangan desa tematik (seperti peternakan ayam petelur dan budi daya ikan lele/nila) serta pelatihan/magang SDM pemuda desa juga menjadi poin penting yang siap dikolaborasikan bersama Malaysia.