Selanjutnya, figur kedua adalah Purbaya, yang menjabat sebagai Menteri Keuangan sejak 8 September 2025 hingga 14 September 2026, atau selama 12 bulan 6 hari.
Purbaya tampil dengan penekanan yang lebih agresif terhadap agenda pertumbuhan ekonomi. Purbaya membawa pandangan bahwa kebijakan fiskal harus memastikan roda perekonomian terus bergerak, kredit mengalir ke sektor produktif, investasi tumbuh, dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Salah satu terobosan yang menonjol adalah kebijakan memindahkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang sebelumnya ditempatkan di Bank Indonesia ke sejumlah bank umum milik negara atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan likuiditas perbankan, mendorong penyaluran kredit, menurunkan biaya dana, menggerakkan konsumsi dan investasi, serta mempercepat aktivitas sektor riil.
Pada masa kepemimpinan Purbaya, pertumbuhan ekonomi menunjukkan kinerja yang relatif kuat. Pada Triwulan IV 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,39 persen secara tahunan. Selanjutnya, pada Triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen yang merupakan tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Dan pada Triwulan II 2026 tumbuh pada level 5,29 persen.
Selain mendorong pertumbuhan, Purbaya juga berupaya memainkan APBN sebagai shock absorber atau peredam guncangan ketika harga minyak dunia meningkat akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah pada awal 2026.
Ketika sejumlah negara menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), pemerintah Indonesia menyatakan komitmen untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir 2026. Kebijakan tersebut terbukti berhasil menjaga daya beli masyarakat, melindungi kelompok berpenghasilan rendah, dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.
Pada akhir masa jabatannya, berdasarkan realisasi APBN per Juli 2026, kinerja fiskal nasional menunjukkan kinerja yang solid. Pendapatan negara terealisasi sebesar Rp1.734,0 triliun atau naik 21,3 persen (yoy). Sementara itu, belanja negara terealisasi Rp1.969,6 triliun atau naik 18,2 persen (yoy). Dengan demikian, APBN mencatat defisit sebesar Rp235,6 triliun atau setara dengan 0,91 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto).
Dan figur ketiga adalah Suahasil, yang dilantik sebagai Menteri Keuangan pada 14 September 2026.