"Jadi, dia ini membeli, order, ke Bulog, setelah dia order, dijual kan, nah yang membeli ini, dibongkar bungkusannya, kemudian masukkan ke karung, ini dua biasa yang dilakukan. Sebagian lompat menjadi premium, kemudian langsung, sebagian dioplos, baru dijual. Intinya adalah keserakahan," terang Amran.

Sebelumnya, Amran melakukan inspeksi dadakan (sidak) ke salah satu rumah di kawasan Matraman, Jakarta Timur yang menjadi gudang beras oplos beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Berdasarkan pantauan NadiKabar, Rabu (28/10/2026) kemarin, rumah yang ditemukan Amran ini berisi tumpukan beras medium tidak bermerek dan terdapat packaging beras SPHP. Di depan rumah tersebut masih terdapat spanduk bertuliskan Toko/Rumah Beras Kayumanis, Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur.

Amran mengaku geram mengingat beras SPHP merupakan hasil subsidi pemerintah. Modus yang dilakukan pelaku oplos ini yakni mencampurkan SPHP dengan beras tidak bermerek dan dijual harga premium.