Di tengah melimpahnya produksi pihaknya pun meminta agar Badan Gizi Nasional (BGN) meningkatkan penyerapan telur untuk program Makan Bergizi Gratis. Pihaknya juga sudah mengkoordinasikan telur dari petani diekspor.

Namun, telur tetap melimpah pasokannya meskipun dua kebijakan tadi sudah dilakukan. Alhasil, harga pun belum mengalami kenaikan di tingkat peternak.

"Sekarang surplus, kita ekspor, Bapak Presiden. Tapi harga di tingkat peternak itu jatuh Rp 21.000. Kami sudah minta tolong ke Kepala BGN, Pak Sudaryono, sudah minta tolong untuk konsumsi telur biasanya satu kali per minggu jadi dua kali, tiga kali. Tapi ternyata produksi karena melimpah, Bapak Presiden, masih turun," papar Amran.

Nah di tengah pasokan yang melimpah harga telur di konsumen justru meroket hingga melebihi batas atas harga eceran tertinggi (HET). HET telur sendiri berkisar di antara Rp 28-30 ribu per kg.