NADIKABAR.COM — Microsoft melontarkan klaim besar terkait penggunaan AI dalam dunia medis. Mereka menyebut sistem AI terbaru garapannya mampu mendiagnosis berbagai kondisi penyakit hingga empat kali lebih akurat dibandingkan dokter manusia.

Riset ilmiah mengenai terobosan ini telah resmi dipublikasikan di salah satu jurnal ilmiah paling bergengsi di dunia, Science. Temuan ini menjadi fondasi awal Microsoft dalam mewujudkan ambisi besar mereka mengembangkan kecerdasan buatan medis tingkat tinggi (medical superintelligence).

Sistem yang diberi nama Diagnostic Orchestrator ini ditenagai oleh model AI canggih OpenAI, GPT-5.

Tidak seperti chatbot AI biasa yang sekadar memberikan jawaban instan, Diagnostic Orchestrator mengandalkan arsitektur banyak agen (multi-agent). Sistem ini bekerja meniru proses penalaran tim medis atau diskusi panel dokter spesialis:

Pengujian ini menggunakan tolok ukur (benchmark) baru bernama SDBench yang dikembangkan Microsoft dari ratusan laporan kasus medis nyata.

Hasil pengujian menunjukkan keunggulan mutlak dari sistem AI kembangan Microsoft saat diadu dengan dokter manusia:

Selain lebih akurat, sistem AI ini juga mampu merumuskan langkah penanganan dengan estimasi biaya tes laboratorium yang lebih efisien dibandingkan estimasi dokter manusia.

CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman, menyebut pencapaian ini sebagai tonggak sejarah penting di industri kesehatan global.

"Masa itu akhirnya tiba. Ini adalah tonggak sejarah besar dalam perjalanan panjang integrasi AI di dunia medis," ujar Suleyman, seperti dikutip NadiKabar dari The Verge, Senin (26/10/2026).

Meski begitu, Microsoft menyadari bahwa pengujian pada data historis berbeda dengan dinamika nyata di lapangan. Oleh karena itu, Head of Health AI Microsoft, Dr. Dominic King, mengonfirmasi bahwa perusahaan bakal segera menguji sistem ini secara langsung di lingkungan klinis rumah sakit Beth Israel Deaconess Medical Center dalam beberapa bulan ke depan.

Suleyman menegaskan bahwa kehadiran AI diproyeksikan untuk mengubah lanskap pelayanan kesehatan menjadi lebih baik, bukan untuk menggantikan posisi tenaga medis.

AI akan mengambil alih tugas-tugas analisis rumit yang menjenuhkan, sehingga dokter manusia dapat memfokuskan lebih banyak waktu berkualitas untuk merawat pasien secara langsung.