NADIKABAR.COM — Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, kini mulai sepi pembeli. Di dalam pasar tiga lantai itu, banyak kios harus tutup dengan pintu besi tergembok. Sementara lapak yang masih bertahan tak banyak didatangi penglaris.
Berdasarkan pantauan NadiKabar, Senin (21/9/2026), di area depan pasar terdapat banyak akses tangga untuk masuk menuju area basement ataupun langsung ke lantai dasar. Di area ini pengunjung masih disuguhi deretan toko yang menjual banyak produk, mulai dari emas dan perhiasan hingga pakaian dan produk kecantikan.
Lalu, saat memasuki area basement pasar lebih dalam, banyak rolling door tertutup rapat dan terkunci. Pakaian, tas, dan perabotan cuma menggantung di beberapa sudut lorong sempit. Tak tersentuh pembeli.
Di lantai dasar jumlah toko yang buka lebih banyak, tapi suasana tetap sepi. Sebab sampai siang hari ini, jumlah pembeli yang lalu lalang sangat jarang terlihat.
Naik satu lantai lagi ke area paling tinggi di bangunan pasar, banyak lapak makanan dan kios produk segar seperti buah dan sayur, hingga daging di tengah lantai. Namun di sekelilingnya, pintu-pintu kios tetangga juga sudah banyak yang gulung tikar dan terkunci.
Di lantai ini pun jumlah pengunjung yang datang juga bisa dihitung dengan jari. Membuat suasana Pasar Pondok Labu secara keseluruhan sangat sepi meski masih banyak pedagang yang bertahan.
Kondisi sepi pelanggan seperti yang dirasakan oleh salah satu pedagang kosmetik dan produk kecantikan di pasar tersebut, Farid. Di mana menurutnya pasar ini sempat mengalami masa kejayaan pada awal tahun 2000an hingga menjelang 2019 lalu.
"Kondisi pasar ya sudah lumayan parah. Parahnya dari sebelum pandemi sudah terasa. Malah kalau dari waktu pandemi, kita kan disuruh tutup ya, jadi kita kucing-kucingan buka toko, itu masih dapat malah," ujar salah seorang pedagang produk kecantikan, Farid.
"Sekarang sudah terbuka kayak gini, malah nggak ada yang datang sama sekali. Lihat saja ini dari tadi nggak ada yang lewat, paling cuma pedagang-pedagang lain yang lewat untuk ke belakang," jelas Farid lagi yang membuka kios di bagian dalam lantai dasar pasar.
Sebagai perbandingan, dulu saat kondisi pasar masih ramai pengunjung ia mengaku bisa membawa pulang omzet setidaknya Rp 5 juta per hari. Namun dengan kondisi pasar saat ini, dalam satu hari dirinya belum tentu bisa mengumpulkan omzet hingga Rp 1 juta alias sudah anjlok hingga 80% atau lebih.
"Saya kalau mau ngomong dulu kalau bilang persenan ya ada lah 80% hilang.Dulu saya sehari Rp 5 juta ke atas. Sekarang nyari Rp 1 juta itu susah," ujarnya.
Beruntung saat toko kosmetik dan produk kecantikannya masih ramai pelanggan Farid tidak banyak menghabiskan uangnya. Selain untuk membeli rumah dan dua motor yang masih dimilikinya, dulu ia lebih banyak menabung karena tahu 'roda pasti berputar'.
"Ke pangkas tabungan, ya pasti sudah kemakan. Saya justru bisa bertahan karena masih ada itu. Tapi ya saya juga ada ambil KUR buat putaran modal dagang di sini," tutur Farid.
"Jadi sekarang gimana kita imbangin pakai tabungan sama KUR buat perputaran modal sama bertahan hidup. Kalau nanti memang di sisi sudah nggak kuat, ya mau nggak mau selesaikan KUR-nya dulu baru tutup. Soalnya itu jatuhnya utang kan," paparnya.
Jika kondisi ini terus berlanjut, ia bahkan sudah berfikir untuk menjual sejumlah aset untuk menutup kredit usaha ke bank. Hal ini dilakukan agar dirinya tak terus terlilit oleh utang jika usahanya benar-benar sudah tak bisa dipertahankan.