Masing-masing sumber data memiliki karakteristik dan kelengkapan informasi yang berbeda sehingga proses integrasi menjadi bagian penting dalam penyusunan basis data sosial ekonomi. Menurut Setia, data perlu terus diperbarui karena kondisi masyarakat dapat berubah dari waktu ke waktu.
"Data itu memang harus di-update karena kondisi masyarakat berubah. Ada yang pindah domisili, ada yang meninggal, dan sebagainya," jelasnya.
Dalam penentuan desil, BPS menyusun peringkat kesejahteraan berdasarkan karakteristik sosial ekonomi rumah tangga. Peringkat tersebut tidak ditentukan hanya berdasarkan pendapatan karena informasi pengeluaran atau pendapatan secara langsung tidak tersedia untuk seluruh rumah tangga.
Prof. Setia menjelaskan, BPS memanfaatkan data Susenas yang memiliki informasi pengeluaran rumah tangga untuk membangun model estimasi bagi rumah tangga yang tidak memiliki informasi pengeluaran secara langsung. Model tersebut menggunakan pendekatan Proxy Means Test (PMT) dan metode machine learning.
Karakteristik wilayah juga menjadi bagian dari proses pemodelan. BPS mengembangkan model berdasarkan kondisi masing-masing kabupaten/kota karena karakteristik sosial ekonomi masyarakat berbeda antardaerah.
"Modelnya kita bangun di masing-masing kabupaten/kota karena karakteristik masing-masing daerah itu berbeda," ujar Setia.