Hasil pemodelan kemudian digunakan untuk menyusun peringkat kondisi sosial ekonomi secara nasional. Menurut Prof. Setia, proses tersebut terus dievaluasi untuk meningkatkan akurasi model dan mengurangi kesalahan yang dapat muncul baik dari model maupun dari kualitas data yang digunakan.

Ia menambahkan, penyempurnaan metodologi merupakan proses yang terus berjalan seiring dengan pemutakhiran data. Dengan demikian, perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat dapat tercermin dalam basis data yang digunakan pemerintah.

Lebih lanjut, Andy menambahkan bahwa pemerintah terbuka terhadap masukan untuk menyempurnakan metodologi maupun penentuan desil. Diskusi akademis menjadi salah satu ruang untuk mengevaluasi proses tersebut.

"Tadi ada Mas Media Askar dari Celios. Dia memberikan masukan-masukan yang saya rasa ini konstruktif untuk pemerintah untuk membenahi semuanya. Untuk menyempurnakan metodologi, menyempurnakan desil, menyempurnakan DTSEN. Dan ini kita buka," katanya.

Menurut Andy, pemutakhiran tidak berhenti pada pembaruan data secara administratif, tetapi juga mencakup respons terhadap temuan di lapangan.

"Adapun ada hal-hal yang kiranya error di lapangan, semuanya kita respons. Semua masukan dari media kita respons dan langsung kita tindak lagi sebagai bagian dari pemutakhiran," tutup Andy.