Anak walrus itu akhirnya berhasil dibawa ke bandara setempat dan tiba di Alaska SeaLife Center pada 14 September menggunakan pesawat terbang dan mobil. Bayi seberat sekitar 90 kg itu tiba dalam keadaan dehidrasi, namun kondisinya secara umum cukup baik. Petugas mengobati beberapa luka luarnya, memberi cairan, dan perawatan lainnya.
Namun, perjalanan anak walrus tersebut belum usai. Anak walrus Pasifik yang yatim piatu merupakan salah satu pasien yang paling butuh penanganan khusus dalam proses rehabilitasi mamalia laut. Itu karena di alam liar, anak walrus sangat bergantung pada induknya dan biasanya hidup berdampingan satu hingga dua tahun.
Kontak fisik erat, baik dengan induk maupun kawanannya, merupakan elemen krusial pada awal kehidupan anak walrus. Dalam kasus anak walrus sebatang kara, manusia dapat jadi induk pengganti, namun tugas pengasuhan sangat berat. Seseorang harus ada tiap saat untuk kontak fisik, interaksi sosial, makan, serta perawatan medis yang diperlukan.