"Pengembangan energi baru terbarukan tidak hanya berbicara mengenai penyediaan energi yang lebih bersih, tetapi juga bagaimana setiap potensi pengurangan emisi dapat dikelola menjadi nilai tambah yang berkelanjutan. Melalui pengembangan aset karbon dari PLTP Gunung Salak, kami melihat adanya peluang untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus mendorong keberlanjutan pengembangan energi panas bumi di Indonesia," tegas Bernadus dalam keterangan resmi, ditulis Senin (7/9/2026).

Menurutnya, pengembangan aset karbon merupakan salah satu skema yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dari pembangkit energi terbarukan.

"Geothermal memiliki potensi besar sebagai sumber energi bersih yang andal. Karena itu, kami terus mendorong berbagai inisiatif yang tidak hanya meningkatkan kinerja aset pembangkit, tetapi juga membuka peluang nilai tambah dari aspek lingkungan dan pengurangan emisi," tambahnya.

Melalui monetisasi aset karbon, pengurangan emisi dari proyek energi terbarukan dapat memiliki nilai ekonomi. Skema tersebut juga dapat memberikan tambahan insentif bagi investasi dan pengembangan sektor energi bersih.