Saat ini, pekerjaan yang tersisa meliputi penyelesaian area perkantoran, fasad bangunan, dan taman. Meski demikian, fasilitas tersebut telah memasuki tahap uji coba operasional atau commissioning. Listrik yang dihasilkan bahkan sudah masuk ke jaringan PT PLN (Persero).
Kapasitas pembangkit yang semula dirancang sebesar 17,7 megawatt (MW) juga berpotensi meningkat menjadi 18,6 MW, bahkan mencapai 20 MW dalam kondisi puncak.
"Insyaallah Desember ini mudah-mudahan sudah bisa kita resmikan. Bayangkan, sesuatu yang tadinya menjadi masalah besar bagi lingkungan, sekarang bisa diubah menjadi energi listrik yang bermanfaat," ujar Zulhas.
PSEL Palembang dirancang mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah setiap hari. Kapasitas tersebut mencakup sebagian besar timbulan sampah Kota Palembang yang mencapai sekitar 1.260,956 ton per hari.
Melalui teknologi waste to energy, sampah yang selama ini menjadi beban pengelolaan lingkungan dapat diolah menjadi sumber energi listrik. Produksi listrik dari fasilitas ini diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan sekitar 12.000 hingga 14.000 rumah tangga.
Transformasi tersebut dinilai penting mengingat persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan penumpukan di tempat pembuangan akhir. Pengelolaan yang tidak optimal juga dapat memicu pencemaran lingkungan, penyebaran mikroplastik, emisi gas metana, hingga risiko kebakaran dan bencana lingkungan.
Di sisi lain, pemerintah masih menyiapkan sejumlah langkah untuk menjamin keberlanjutan operasional sekaligus manfaat ekonomi proyek tersebut. Salah satunya melalui penyesuaian regulasi pengembangan PSEL dari Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 menuju Perpres Nomor 109 Tahun 2025.