NADIKABAR.COM — Qualcomm dan SpaceX melalui layanan Starlink Mobile memasuki babak baru pengembangan jaringan telekomunikasi berbasis layanan 5G.
Keduanya bekerja sama membangun infrastruktur 5G yang menggabungkan jaringan satelit dan seluler terestrial untuk memperluas jangkauan konektivitas di Amerika Serikat.
Dalam kerja sama ini, Qualcomm akan memasok teknologi infrastruktur seluler melalui platform Dragonwing Cellular Infrastructure untuk mendukung pembangunan jaringan 5G Starlink Mobile.
Dikutip dari pengumuman resmi Qualcomm, Minggu (8/11/2026), SpaceX berencana mulai menggelar jaringan tersebut secara nasional pada 2027. Pembangunannya akan mencakup puluhan ribu lokasi BTS dalam kesepakatan kerja sama multi-tahun.
Teknologi yang digunakan mencakup platform Qualcomm Dragonwing QRU100 dan QDU100. Keduanya dirancang untuk mendukung pembangunan jaringan dengan kapasitas tinggi sekaligus efisiensi penggunaan energi.
Salah satu teknologi andalannya adalah Massive MIMO dengan konfigurasi 64T64R, yakni 64 jalur transmisi dan 64 jalur penerimaan sinyal. Teknologi ini memungkinkan jaringan meningkatkan kapasitas, cakupan, serta efisiensi penggunaan spektrum frekuensi.
Qualcomm menyebut platform tersebut juga dilengkapi perangkat lunak Layer 1 kelas komersial untuk mendukung pemrosesan jaringan dengan latensi rendah.
Wakil Presiden Eksekutif sekaligus General Manager Technology Planning, Edge Solutions, and Data Center Qualcomm Technologies, Durga Malladi, mengatakan pembangunan jaringan nasional membutuhkan kinerja tinggi dan efisiensi energi di setiap lokasi.
Disampaikannya, teknologi Dragonwing menggabungkan Massive MIMO, pemrosesan khusus, dan perangkat lunak jaringan untuk mendukung pengembangan infrastruktur Starlink dalam skala besar.
Sementara itu, Senior Vice President Starlink Michael Nicolls mengatakan kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan arsitektur jaringan mereka.
Starlink ingin membangun jaringan terintegrasi yang menggabungkan konektivitas satelit dan jaringan seluler terestrial. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan menargetkan pengguna tetap terhubung ketika berada di berbagai lokasi, baik di dalam maupun luar ruangan.
Kerja sama Qualcomm dan SpaceX ini tidak hanya berfokus pada pengembangan jaringan 5G. Keduanya juga melihat kolaborasi tersebut sebagai langkah awal menuju infrastruktur 6G berbasis kecerdasan buatan atau AI-native 6G.
Qualcomm menyebut arsitektur Dragonwing dirancang fleksibel untuk mendukung pengembangan jaringan multi-band dalam beberapa tahap penerapan.
Meski penggelaran awal difokuskan pada jaringan 5G terestrial, arsitektur tersebut disiapkan agar dapat dikembangkan untuk kebutuhan konektivitas dan pemrosesan jaringan pada masa mendatang.