NADIKABAR.COM — Pemerintah menguji teknologi pemadam kebakaran asal Brasil bernama Realiza Antichamas untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di lahan gambut yang apinya bisa bertahan di bawah permukaan tanah.

Material ini diklaim dapat membuat air lebih efektif memadamkan api sekaligus menjaga kelembapan tanah. Namun, seberapa jauh efektivitas dan keamanan lingkungannya telah dibuktikan?

Asisten Deputi Koordinasi Kekuatan, Kemampuan, dan Kerja Sama Pertahanan Kemenko Polkam Brigjen TNI (Mar) Kresno Pratowo menjelaskan, material tersebut diperkenalkan saat demonstrasi penanganan karhutla di Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, pada 9 Oktober 2026.

Dalam pemaparannya di diskusi 'Sinergi Kebijakan dan Aksi Cepat Tanggap Bencana Karhutla' di Amanaia Satrio, Jakarta Selatan, Rabu (21/10), Kresno menyebut bahan tersebut sebagai salah satu alternatif teknologi yang berpotensi membantu proses pemadaman.

"Kemarin saya di Sumatera Selatan, mendampingi Pak Menko (Dudung Abdurachman). Ada namanya Realiza Antichamas. Itu bentuknya dicampur dengan air, bisa menjadi gel. Begitu memadamkan, itu menyerap panas, kemudian itu tidak merusak lingkungan," kata Kresno.

Realiza Antichamas bukan sekadar cairan pemadam siap semprot. Berdasarkan laporan uji coba di Banyuasin, material ini berbentuk serbuk yang dilarutkan ke dalam air sebelum digunakan. Setelah bercampur air, material tersebut membentuk gel yang kemudian disemprotkan ke area kebakaran.

Gel tersebut dapat membantu menghambat penyebaran api dan mempertahankan kelembapan. Material itu disebut dapat dicampurkan ke tangki pemadam atau tandon air, termasuk untuk mendukung operasi pemadaman melalui water bombing.

Pihak penyedia mengklaim campuran air dan Realiza Antichamas dapat membuat pemadaman hingga 10 kali lebih efektif dibandingkan air biasa. Material tersebut juga disebut dapat terurai dengan sendirinya setelah sekitar 72 jam.

Klaim tersebut menjadi salah satu alasan teknologi ini menarik untuk diuji pada lahan gambut. Pada ekosistem ini, kebakaran tidak selalu selesai ketika api yang terlihat di permukaan telah padam. Bara dapat bertahan di lapisan tanah organik dan kembali menyala ketika kondisi mendukung.

Gel yang membantu mempertahankan kelembapan berpotensi mendukung proses pemadaman. Meski demikian, efektivitasnya untuk menjangkau bara yang berada jauh di bawah permukaan tanah perlu dinilai melalui pengujian lapangan, bukan hanya berdasarkan bentuk material setelah dicampur air.

Hal lain yang disorot adalah klaim bahwa material tersebut tidak merusak lingkungan. Kresno menyebut kemungkinan lahan menjadi subur kembali setelah penggunaan bahan itu. "Jadi dia jadi subur kembali. Itu salah satu contoh," ujarnya.

Kresno mengatakan pemerintah ingin mendorong pengembangan teknologi tersebut lebih jauh, termasuk kemungkinan membangun fasilitas produksi di Indonesia. "Tapi kita akan mendorong dari Pak Menko, kita akan buka pabrik di sini," ujarnya.

Menurut Kresno, rencana itu berpotensi membuka lapangan pekerjaan dan membawa kerja sama teknologi dari Brasil ke Indonesia. Ia menekankan bahwa pemanfaatannya diharapkan tidak semata-mata dilihat sebagai peluang bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari strategi penanganan karhutla.

"Ini membuka lapangan pekerjaan, kan begitu dari sisi ekonominya. Kemudian ada suatu langkah strategis kita, dari Brasil ke kita. Jadi tidak hanya mikirin bisnisnya doang, tapi kita mengarah kepada itu," kata Kresno.

Teknologi ini dapat menjadi salah satu alat pendukung pemadaman, tetapi belum cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa penggunaannya akan menyelesaikan persoalan karhutla atau menjamin tanah kembali subur. Hasil pengujian lanjutan akan menentukan sejauh mana material asal Brasil ini layak diterapkan lebih luas di Indonesia.