NADIKABAR.COM — Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.170 per dolar AS pada perdagangan Kamis (29/10) pagi. Mata uang Garuda menguat 14 poin atau 0,08 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS. Yuan China terapresiasi 0,06 persen, peso Filipina menguat 0,32 persen, dan ringgit Malaysia naik 0,20 persen.

Penguatan juga terjadi pada dolar Singapura sebesar 0,13 persen, yen Jepang 0,07 persen, won Korea Selatan 0,84 persen, serta dolar Hong Kong 0,01 persen.

Sementara itu, pergerakan mata uang utama negara maju bervariasi terhadap dolar AS. Euro melemah 0,02 persen, sedangkan poundsterling Inggris menguat 0,01 persen dan dolar Australia terapresiasi 0,08 persen.

Dolar Kanada juga menguat 0,16 persen, diikuti franc Swiss yang naik 0,02 persen terhadap dolar AS.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah berpotensi menguat seiring pelemahan dolar AS setelah hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Meski demikian, pergerakan pasar saham domestik masih menjadi perhatian investor.

"Rupiah diperkirakan menguat seiring pelemahan dolar AS pasca-FOMC. Namun, fokus pasar masih tertuju pada pergerakan ekuitas domestik. Jika investor asing kembali mencatatkan net buy seperti pada Rabu (28/10), hal ini akan memberikan dukungan tambahan bagi rupiah," ujar Lukman kepada NadiKabar.com, Kamis (29/10).

Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS pada perdagangan hari ini.