Berdasarkan prognosa Kementan yang dipublikasikan pada September 2026, produksi daging ayam ras diperkirakan mencapai 4,71 juta ton. Sementara itu, kebutuhan daging ayam diproyeksikan sekitar 3,97 juta ton.

Dengan demikian, produksi daging ayam ras diperkirakan surplus sekitar 0,73 juta ton. Meski demikian, angka surplus secara tahunan tersebut tidak otomatis menunjukkan kelebihan pasokan di setiap wilayah dan waktu.

"Karena itu, pengaturan produksi terus dilakukan dengan memperhatikan perkembangan DOC, panen, permintaan, dan harga," terangnya.

Kementan juga menjelaskan, Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung telah berjalan bahkan ada tambahan alokasi 150.000 ton yang telah disetujui pemerintah. Namun karena peternak broiler umumnya menggunakan pakan jadi, penurunan harga bahan baku jagung perlu diikuti dengan mekanisme yang memastikan biaya tersebut turut tercermin pada harga pakan yang perlu koordinasi antara Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bulog, dan pelaku usaha.

"Skema khusus untuk broiler memerlukan koordinasi dengan Bapanas, Bulog, dan pelaku usaha sesuai ketentuan program," ungkapnya.

Kementan juga mengakui kerugian yang berlangsung dalam waktu lama berisiko menggerus modal peternak. Kondisi tersebut dapat mendorong peternak mengurangi populasi ayam atau bahkan berhenti berusaha.