NADIKABAR.COM — Negara tetangga Singapura berupaya memanfaatkan ledakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengembangkan berbagai kemampuan baru dan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih baik sebelum permintaannya melambat. Demikian dikatakan Perdana Menteri Lawrence Wong.

Saat berbincang dengan di ajang Forbes Global CEO Conference yang digelar di Shangri-La Singapura, Wong menyebutkan bahwa permintaan yang didorong oleh AI tengah mendongkrak industri semikonduktor Singapura dan memberikan keuntungan bagi sektor-sektor lainnya.

"Tidak ada booming bertahan selamanya. Pada titik tertentu, akan terjadi koreksi. Dan kita tidak tahu kapan itu akan terjadi, atau bagaimana terjadinya, kita juga tidak tahu siapa yang akan menjadi korban ketika hal itu terjadi," ungkapnya, dikutip Channel News Asia.

"Karena itu, pendekatan kami saat ini adalah memanfaatkan celah peluang yang ada dengan sebaik-baiknya, di mana terdapat permintaan eksternal, mengkapitalisasinya, membangun berbagai kemampuan baru, dan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih baik bagi warga Singapura," imbuhnya.

Singapura yang dinobatkan sebagai negara terkaya di dunia pada tahun 2026 oleh majalah Global Finance berdasarkan PDB per kapita yang disesuaikan dengan paritas daya beli (PPP), menyumbang sekitar 10% dari total produksi semikonduktor global, menurut Economic Development Board.

Produsen chip asal Amerika Serikat, GlobalFoundries dan Micron Technology, menginvestasikan miliaran dolar untuk memperluas operasi mereka di Singapura, guna meraup keuntungan dari meningkatnya permintaan akan chip memori dan chip khusus yang digunakan dalam teknologi berbasis AI.

Wong menuturkan industri ini juga mengembangkan jaringan perusahaan rekayasa presisi dan pemasok peralatan, sementara ledakan AI turut membawa keuntungan bagi sektor lain, termasuk logistik dan layanan profesional. Ia menyebut perekonomian Singapura tumbuh sekitar 5% per tahun selama tiga tahun terakhir, termasuk tahun 2026, yang sebagian didukung permintaan terkait AI.

Namun, adopsi AI yang sangat cepat juga diperkirakan akan mengubah lanskap ketenagakerjaan, di mana beberapa pekerjaan akan hilang dan yang lainnya akan membutuhkan keterampilan baru. "Jelas beberapa pekerjaan akan hilang,dan banyak pekerjaan harus berubah," ujar Wong yang dikutip NadiKabar dari VN Express.

Menurutnya, ukuran Singapura yang relatif kecil serta kerja sama antara pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja akan membantu tenaga kerja beradaptasi dengan perubahan ini.

Wong juga menyerukan adanya kerja sama internasional guna mengatasi risiko sistem AI yang makin canggih, termasuk potensi penyalahgunaannya serta kemungkinan sistem otonom beroperasi di luar kendali. Ia menyatakan langkah pengamanan global pada akhirnya dapat dikembangkan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).