NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mempertanyakan penilaian dari lembaga pemeringkat (rating agency) global yang dinilai terlampau ketat atas indikator fiskal Indonesia, sedangkan banyak negara yang memiliki banyak utang mendapatkan rating yang lebih positif.

Airlangga menjelaskan pemerintah Indonesia selalu disiplin dalam menjaga defisit anggaran di bawah 3%. Selain itu pemerintah juga selalu menjaga rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional di kisaran 39%.

Angka tersebut dinilai jauh lebih rendah jika dibandingkan beberapa negara maju dan berkembang lainnya seperti Amerika Serikat (AS), India, Jepang, hingga Singapura yang memiliki rasio utang jauh melampaui PDB mereka. Namun negara-negara ini memiliki rating lebih baik dari Indonesia.

"Kita selama ini tentu dipaku dengan Indonesia punya budget deficit di bawah 3% dan debt to GDP ratio sekarang kita sekitar 39%. Bandingkan dengan Amerika yang 5,8% deficit-nya, kemudian utangnya terhadap GDP 123,3%," katanya dalam acara BIG Downstream Insight, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026).

"Kemudian India minus 4,4% dan debt-nya 83,10%. Jepang deficit-nya minus 0,6% cuman hutangnya 248,7%, dan negara tetangga kita Singapura dia budget positif 1,9% tapi debt-nya di 171,3%" sambung Airlangga.

Atas dasar perbandingan inilah Airlangga kemudian menyayangkan sorotan berlebihan dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional terhadap postur APBN Indonesia, padahal negara-negara lain diberikan kelonggaran yang jauh lebih besar.

"Nah pertanyaannya kenapa ada kelompok rating agency yang heboh dan mematok Indonesia di angka-angka yang sebetulnya dibandingkan negara-negara yang tadi saya sebut makroprudensial kita relatif konservatif. Nah ini tentunya kan pertanyaannya kalau yang lain boleh kok Indonesia nggak boleh?" tegasnya.

Di luar itu, Airlangga memaparkan saat ini ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh di angka 5,05%. Angka berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan sekitar 3% oleh berbagai lembaga internasional.

"Berbagai lembaga menilai pertumbuhan global rata-rata 3% sekian baik IMF, World Bank. Indonesia masih mampu tumbuh di 5,05% dan tentu kita berharap bahwa menjelang semester kedua angkanya juga tidak jauh dari angka di semester pertama," ujar Airlangga.

Dalam hal ini, Airlangga menegaskan sektor industri pengolahan dan industri non-migas masih jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Di mana kontribusi sektor pengolahan capai 18,50% terhadap PDB, kemudian sektor non-migas sebesar 16,83%.

"Kita juga sampaikan bahwa sektor yang mendominasi dan menjadi kontributor terbesar adalah di sektor industri pengolahan, dan industri non-migas pun tumbuh 5,32% dan kontribusinya adalah 16,83% kepada PDB nasional," pungkasnya.