NADIKABAR.COM — PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mencatatkan peningkatan penjualan pada Kuartal III 2026 sebesar 11,9% year on year (yoy) menjadi Rp15,80 triliun. Penjualan ini terdiri dari penjualan pada proyek non Kerja Sama Operasi (non KSO) sebesar Rp 9,04 triliun dan penjualan pada proyek KSO sebesar Rp 6,77 triliun.
Peningkatan penjualan tersebut sejalan dengan pertumbuhan perolehan kontrak baru Perseroan hingga kuartal III 2026 sebesar 57,9% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi Rp 9,78 triliun.
Adapun capaian ini didukung oleh upaya transformasi dan penyehatan yang konsisten dijalankan Perseroan sejak 2023. Dalam prosesnya, Perseroan menerapkan seleksi proyek (project selection) secara ketat dengan prinsip four eyes, serta mengutamakan kontrak dengan skema pembayaran uang muka dan pembayaran berdasarkan progres pekerjaan setiap bulan
Dengan strategi tersebut, setiap proyek mampu menghasilkan profitabilitas yang baik dan beroperasi secara mandiri. Hal ini tercermin dari laba kotor Perseroan yang mencapai Rp 1,09 triliun, tumbuh 44,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Margin laba kotor juga meningkat menjadi 12,11%, dibandingkan 8,34% pada periode yang sama tahun lalu.
"Peningkatan penjualan yang diiringi penguatan margin profitabilitas mencerminkan keberhasilan strategi bisnis Perseroan dalam mendorong penguatan pasar serta operational yang lean dan excellence. Ke depan, Perseroan akan terus menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat profitabilitas secara berkelanjutan guna menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan," ujar Corporate Secretary WIKA, Ngatemin dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).
Langkah transformasi tersebut turut berdampak pada kinerja bisnis utama Perseroan. Laba usaha tercatat sebesar Rp 754,33 miliar, meningkat 162,1% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, EBITDA dari operasi inti di luar penyertaan pada investasi kereta mencapai Rp 957,84 miliar, tumbuh 148,4% yoy.
Penerapan lean management juga mulai menunjukkan hasil. Hal ini tercermin dari penurunan Operating Expense Ratio menjadi 5,34% pada kuartal III 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi finansial, Perseroan juga fokus melakukan penguatan fundamental. Hal ini dapat dilihat dari total utang Perseroan yang menurun sebesar Rp 1,42 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari utang berbunga Perseroan yang menurun Rp 505 miliar dan utang usaha Perseroan yang menurun Rp 914,54 miliar pada kuartal III 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Untuk melanjutkan upaya transformasi dan penyehatan, Perseroan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemegang saham, kreditur, regulator, hingga publik.
Dukungan tersebut diperlukan untuk mendorong restrukturisasi secara menyeluruh, pengembalian modal Perseroan, serta divestasi pada proyek penugasan kereta cepat. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi beban bunga dan kerugian yang timbul dari penugasan proyek kereta cepat.
Selain itu, pengembalian modal dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kewajiban pembayaran kepada para kreditur, baik perbankan maupun pemegang surat utang berupa obligasi dan sukuk. Adapun pemegang surat utang Perseroan terdiri dari 206 investor perorangan, 88 lembaga dana pensiun, dan 154 lembaga keuangan.