NADIKABAR.COM — Di tengah pergeseran nilai bisnis ke perangkat lunak (software) dan layanan berbasis kecerdasan buatan (AI), muncul pertanyaan tentang bagaimana perusahaan perangkat keras (hardware) dapat terus mempertahankan relevansinya.
Menurut Technical Public Relations ASUS Expert, Said Dahda jawabannya bukan dengan mempertahankan hardware dari gelombang perubahan tersebut, melainkan membangun satu kesatuan yang mencakup perangkat AI, infrastruktur AI, hingga aplikasi AI, mulai dari cloud sampai edge.
Membangun satu kesatuan penuh itulah yang menjadi makna sesungguhnya di balik filosofi 'Ubiquitous AI, Incredible Possibilities' milik ASUS. Filosofi tersebut bukan sekadar slogan pemasaran, melainkan arahan desain untuk setiap produk yang dibuat.
Pergeseran yang terjadi di industri juga membawa implikasi besar bagi cara perusahaan memandang perangkat kerja hari ini. AI tidak lagi diposisikan sebagai fitur tambahan yang tinggal ditempel di akhir proses desain, melainkan menjadi pertimbangan paling awal yang menentukan arsitektur sebuah produk.
Dengan kata lain, AI telah bergeser dari sekadar kapabilitas menjadi fondasi, dari pelengkap menjadi inti yang menggerakkan roda bisnis itu sendiri.
Agentic AI Dorong Kebutuhan Komputasi Lokal yang Kuat
The image shows an ASUS ExpertBook laptop placed on a table, with a coffee cup and a remote control beside it, overlooking a serene outdoor setting with a view of the water and surrounding nature.