"Kami memperkirakan BI Rate hingga akhir 2027 berada di kisaran 6 persen. Jadi, masih ada kemungkinan atau peluang Bank Indonesia kembali mengetatkan kebijakan moneternya," ujarnya.

Josua memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 masih berada di kisaran 5,2-5,3 persen. Menurutnya, proyeksi tersebut menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia relatif kuat meskipun kondisi eksternal dan global belum sepenuhnya kondusif.

"Berdasarkan proyeksi kami, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026-2027 masih relatif tangguh. Kami memproyeksikan pertumbuhan pada periode tersebut berada di kisaran 5,2-5,3 persen," kata Josua.

Ia juga memperkirakan inflasi tetap terkendali di kisaran 3 persen. Meski demikian, stabilitas nilai tukar rupiah dan biaya pembiayaan masih menjadi faktor yang perlu dicermati.

Josua menambahkan nilai fundamental rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar dan biaya pembiayaan, menurutnya, tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kondisi ekonomi domestik.

Sementara itu, BI memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Oktober 2026. Bank sentral juga mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 5 persen dan lending facility sebesar 6,5 persen.