Meski aman bagi Bumi, lintasan dekat tersebut tetap istimewa. Gravitasi Bumi diperkirakan dapat mengubah rotasi Apophis, memicu pergerakan material di permukaannya, bahkan berpotensi menimbulkan longsoran atau aktivitas seismik pada asteroid.
Perubahan-perubahan itu menjadi sasaran pengamatan para ilmuwan. Namun, jika Apophis mengalami benturan dengan benda lain sebelum atau selama pengamatan, peneliti perlu memisahkan dampak tabrakan tersebut dari pengaruh gravitasi Bumi.
Rossi dan Schettino menyusun simulasi untuk memperkirakan kemungkinan interaksi Apophis dengan populasi benda buatan manusia di sekitar orbit geostasioner. Mereka mempertimbangkan objek yang sudah diketahui serta populasi puing yang lebih kecil dan sulit dilacak.
"Saya awalnya memperkirakan tidak akan ada interaksi. Saya terkejut mendapati kemungkinan itu," kata Rossi dalam wawancara yang dikutip dari ScienceAlert.
Ia menjelaskan bahwa simulasi justru memperlihatkan kemungkinan beberapa objek melintas dalam jarak beberapa kilometer dari asteroid.
Temuan ini tidak berarti tabrakan akan terjadi. Jarak yang dekat dalam simulasi merupakan indikasi kemungkinan pertemuan, bukan bukti bahwa sebuah benda akan menghantam Apophis pada 2029.
Puing antariksa mencakup satelit yang sudah tidak berfungsi, bagian roket, dan pecahan hasil tabrakan benda-benda di orbit. Sebagian objek besar dapat dilacak, tetapi serpihan kecil lebih sulit dideteksi dan dipantau secara konsisten. Ketidakpastian mengenai benda-benda kecil inilah yang membuat peneliti perlu memperhitungkan lebih banyak kemungkinan ketika memodelkan lintasan Apophis.