NADIKABAR.COM — Pemerintah mendorong program swasembada energi, khususnya terkait rencana mandatori penggunaan bahan bakar campur etanol 20% (E20) hingga 50% (E50). Untuk mengejar target tersebut, pemerintah memperkirakan membutuhkan lahan pertanian tebu baru sekitar 2 juta hektare.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurrofiq, menjelaskan saat ini Indonesia memiliki sekitar 560 ribu hektar tanaman tebu dengan produksi rata-rata hampir mencapai 3 juta ton per tahun.

Menurutnya tingkat produksi tersebut baru mencukupi kebutuhan konsumsi langsung masyarakat di dalam negeri, sementara untuk kebutuhan sektor industri masih mengandalkan impor. Sehingga untuk saat ini Indonesia belum memiliki kapasitas produksi lebih yang bisa dialokasikan untuk program E20 apalagi E50.

"Karena tebu ini agak berbeda dengan dengan sawit. Kalau sawit sudah existing, sehingga pada saat Bapak Presiden mengarahkan B40 dan B50 bahan bakunya sudah tersedia. Nah, kalau tebu berbeda lagi karena memang tebu ini dari ujung sampai ujung semuanya dimanfaatkan oleh masyarakat," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Jumat (6/11/2026).

Jika program mandatori pemanfaatan bahan bakar bioetanol ingin dijalankan, pemerintah perlu membuka perkebunan tebu baru yang berdasarkan perkiraan awal bisa mencapai luas 2 juta hektar. Namun perkiraan awal ini masih dihitung ulang dan menyesuaikan desain bersama kementerian teknis.

"Kementerian Pertanian sudah memberikan indikatif lokasi. Tapi tentu kita perlu bahas secara multisektoral ya. Karena mungkin ada beberapa data yang belum update yang sehingga kita akan perlu siapkan lebih awal," terangnya.

"Kita hitung ulang ya, tapi dari desain dari Kementerian Pertanian angkanya seperti itu. Kita kemarin juga sudah dipaparkan oleh Bapak Presiden dalam sidang Kabinet Paripurna," jelas Hanif lagi.

Selain membuka lahan pertanian, Hanif mengatakan saat ini pemerintah tidak juga berupaya untuk menggenjot produktivitas pertanian tebu yang sudah ada. Salah satunya melalui program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman.

Langkah bongkar ratoon dinilai krusial untuk menjaga produktivitas lahan pertanian tebu agar tidak merosot tajam setelah beberapa tahun, sekaligus mendongkrak rendemen tebu Indonesia yang saat ini masih berada di kisaran 6,4 - 7%, tertinggal dari negara lain yang telah mencapai 12%.

Untuk diketahui, rendemen tebu merupakan kadar kandungan atau persentase hablur (kristal) gula yang diperoleh dari batang tebu melalui proses penggilingan di pabrik gula. Artinya semakin tinggi rendemen yang terkandung, semakin banyak juga gula yang bisa dihasilkan dari setiap batang tebu.

"Bongkar ratoon menjadi target yang diarahkan Bapak Presiden, tetapi pelaksanaannya tentu ada tata kelola di sana. Kita harus menyiapkan bibit yang cukup, kemudian literasi yang memadai untuk seluruh petani," paparnya.